MAKALAH
Peran Pesantren dalam Menciptakan Pemimpin Umat
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing
Drs. Muhammad Sahri, M. Pd
![]() |
$26nbsp;
Oleh :
Tony
Usman
Toifahturrohmah
PROGRAM STUDI PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI AL-QOLAM )
MALANG
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di zaman globalisasi pendidikan mengenai moral lebih baik dari pada pendidikan yang bersifat duniawi. Banyak insititusi pendidikan yang menjanjikan lulusan yang dapat sukses dimasa depan, dengan kata lain menjanjikan karir yang cemerlang di masa depan. Tidak bisa dipungiri lagi, pelajaran moral jauh lebih dibutuhkan dibandingkan dengan otak yang cemerlang tapi tidak memiliki moral. Saat ini, sangat dibutuhkan pendidikan formal yang juga menyeimbangkan kebutuhan agama dan duniawi. Pesantren, madrasah, TPA, ataupun sekolah agama lainnya datang membawa sisi lain dalam dunia pendidikan. Disamping pengajaran yang bersifat duniawi seperti matematika, pesantren juga menghadirkan pelajaran yang bersifat agamis yang nantinya akan menjadi bekal bagi para penuntut ilmu untuk menjadi pemimpin yang berguna di masa depan.
Sebagai seorang pemimpin, kita lebih membutuhkan pendidikan mengenai moral dan agama dibandingkan dengan yang lainnya. Pesantren merupakan sekolah pendidikan umum yang persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam daripada ilmu umum. Pesantren untuk tingkat SMP dikenal dengan nama Madrasah Tsanawiyah, sedangkan untuk tingkat SMA dikenal dengan nama Madrasah Aliyah. Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama Islam saja umumnya disebut pesantren salafi. Pola tradisional yang diterapkan dalam pesantren salafi adalah para santri bekerja untuk kyai mereka – bisa dengan mencangkul sawah, mengurusi empang (kolam ikan), dan lain sebagainya – dan sebagai balasannya mereka diajari ilmu agama oleh kyai mereka tersebut. Pesantren memiliki peranan yang sangat penting saat ini. pesantren sebagai alternatif pendidikan. Dengan mahalnya pendidikan-pendidikan umum, pesantren merupakan alternatif pendidikan bagi kalangan yang tidak mampu.
Karena itulah, biaya pendidikan di pesantren harus diminimalisir. Jika memang pesantren tidak mampu, lalu kepada siapa lagi rakyat miskin yang memiliki inisiatif menyekolahkan anaknya akan mengaduh. Negara sebagai pemegang kekuasaan sudah tidak bisa diharapkan lagi. Kini, Indonesia sudah berada dalam jepitan kapitalisme global yang sangat tidak manusiawi. Sebagai pendidikan moral. Diakui atau tidak, moralitas merupakan pangkal dari krisis multidimensi yang berkepanjangan yang melanda bangsa Indonesia ini. Pemerintah, wakil rakyat, pejabat lemah dalam hal moralitas. Akibatnya, korupsi semakin tak tertandingi, lalai dalam menegakkan hukum, keadilan tidak segera tercapai, nepotisme dan kolusi merajalela. Bahkan, pembunuhan, konflik agama, pertengkaran merupakan dampak dari rendahnya moralitas bangsa. Agama dijadikan komoditas politik, legitimasi penguasa yang despotik, perampasan hak-hak asasi dan lain sebagainya. Dan yang terakhir pesantren sebagai pusat studi agama.
I.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan di buatnya makalah yang berjudul “ Peran Pesantren dalam Menciptakan Pemimpin Umat” adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui Pengertian dari pesantren secara global.
2. Mengetahui Tujuan diadakannya pendidikan pesantren.
3. Mengetahui Peranan Pesantren dalam masyarakat maupun sebagai media pendidikan.
4. Mengetahui Tokoh-tokoh pesantren yang berperan sebagai pemimpin.
5. Mengetahui kesan-kesan negatif masyarakat terhadap kehidupan dilingkungan pesantren.
I.3 Perumusan masalah
“Bagaimana Peranan Pesantren dalam Menciptakan Pemimpin Umat dan Siapakah Tokoh Pesantren yang Berhasil dalam Dunia Kepemimpinan?”
I.4 Metodologi Penulisan
Adapun mekanisme pengamat dalam pembuatan makalah ini adalah dengan cara mengumpulkan bahan rujukan yang terkait permasalahan yang dibicarakan dalam makalah ini seperti : buku bacaan, majalah, jurnal dan sumber internet.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Pesantren
Pesantren adalah salah satu pendidikan Islam di Indonesia yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Definisi pesantren sendiri mempunyai pengertian yang bervariasi, tetapi pada hakekatnya mengandung pengertian yang sama. Perkataan pesantren berasal dari bahasa sansekerta yang memperoleh wujud dan pengertian tersendiri dalam bahasa Indonesia. Asal kata san berarti orang baik (laki-laki) disambung tra berarti suka menolong, santra berarti orang baik baik yang suka menolong. Pesantren berarti tempat untuk membina manusia menjadi orang baik.
Sementara itu HA Timur Jailani memberikan batasan pesantren adalah gabungan dari berbagai kata pondok dan pesantren, istilah pesantren diangkat dari kata santri yang berarti murid atau santri yang berarti huruf sebab dalam pesantren inilah mula-mula santri mengenal huruf, sedang istilah pondok berasal dari kata funduk (dalam bahasa Arab) mempunyai arti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi pondok di Indonesia khususnya di pulau jawa lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri.
Selanjutnya Zamaksari Dhofir memberikan batasan tentang pondok pesantren yakni sebagai asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal terbuat dari bambu, atau barangkali berasal dari kata funduk atau berarti hotel atau asrama. Perkataan pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri.
II.2 Komponen Pondok Pesantren
Secara umum pesantren memiliki komponen-komponen kiai, santri, masjid, pondok dann kitab kuning. Berikut ini pengertian dan fungsi masingmasing komponen. Sekaligus menunjukkan serta membedakannya dengan lembaga pendidikan lainnya, yaitu :
a. Pondok
Merupakan tempat tinggal kiai bersama para santrinya. Adanya pondok sebagai tempat tinggal bersama antara kiai dengan para santrinya dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pesantren juga menampung santri-santri yang berasal dari daerah yang jauh untuk bermukim. Pada awalnya pondok tersebut bukan semata-mata dimaksudkan sebagai tempat tinggal atau asrama para santri, untuk mengikuti dengan baik pelajaran yang diberikan oleh kiai, tetapi juga sebagai tempat latihan bagi santri yang bersangkutan agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat.
Para santri dibawah bimbingan kiai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dalam situasi kekeluargaan dan bergotong royong sesame warga*pesantren. Perkembangan selanjutnya, pada masa sekarang pondok tampaknya lebih menonjol fungsinya sebagai tempat pemondokan atau asrama, dan setiap santri dikenakan sewa atau iuran untuk pemeliharaan pondok tersebut.
b. Masjid
Dalam konteks ini, masjid adalah sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. Masjid yang merupakan unsure pokok kedua dari pesantren, disamping berfungsi sebagai tempat melakukan sholat berjamaah setiap waktu sholat, juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar. Biasanya waktu belajar mengajar berkaitan dengan waktu shalat berjamaah, baik sebelum maupun sesudahnya.
Dalam perkembangannya, sesuai dengan perkembangan jumlah santri dan tingkatan pelajaran, dibangun tempat atau ruangan-ruangan khusus untuk halaqah-halaqah. Perkembangan terakhir menunjukkan adanya ruanganruangan yang berupa kelas-kelas sebagaimana yang terdapat pada madrasahmadrash.
Namun demikian, masjid masih tetap digunakan sebagai tempat belajar mengajar. Pada sebagian pesantren masjid juga berfungsi sebagai tempat I’tikaf dan melaksanakan latihan-latihan dan dzikir, maupun amalanamalan lainnya dalam kehidupan tarekat dan sufi (Dhofir, 1982:136)
c. Santri
Santri merupakan unsure pokok dari suatu pesantren, tentang santri ini biasanya terdiri dari dua kelompok :
- santri mukim; ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren.
- santri kalong; ialah santri-santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren.
d. Kiai
Adanya kiai dalam pesantren merupakan hal yang mutlak bagi sebuah pesantren, sebab dia adalah tokoh sentral yang memberikan pengajaran, karena kiai menjadi salah satu unsure yang paling dominant dalam kehidupan suatu pesantren. Kemasyhuran, perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren banyak bergantung pada keahliah dan kedalaman ilmu, kharismatik, wibawa dan ketrampilan kiai yang bersangkutan dalam mengelola pesantrennya. Gelar kiai biasanya diberikan oleh masyarakat kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan mendalam tentang agama Islam dan memiliki serta memimpin pondok pesantren, serta mengajarkan kitab-kitab klasik kepada para santri.
e. Kitab-kitab Islam klasik
Unsur pokok lain yang cukup membedakan peantren dengan lembaga lainnya adalah bahwa pada pesantren diajarkan kitab-kitab Islamklasik atau yang sekarang terkenal dengan sebutan kitab kuning, yang dikarang oleh para ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab. Pelajaran dimulai dengan kitab-kitab yang sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab-kitab tentang berbagai ilmu yang mendalam. Tingkatan suatu pesantren dan pengajarannya, biasanya diketahui dari jenis-jenis kitab-kitab yang diajarkan.
II.3 Tipologi Pondok Pesantren
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman, tertama sekali adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan bentuk pesantren bukan berarti sebagai pondok pesantren yang telah hilang kekhasannya. Dalam hal ini pondok pesantren tetap merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat untuk masyarakat. Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang dalam masyarakat, yang meliputi:
1. Pondok Pesantren Tradisional
Pondok pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang di tulis oleh ulama’ pada abad ke 15 dengan menggunakan bahasa arab. Pola pengajarannya dengan menerapakan sisitem “halaqah” yang dilaksanakan di masjid atau surau. Hakekat dari sistem pengajaran halaqah adalah penghapalan yang titik akhirnya dari segi metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Artinya ilmu itu tidak berkembang kearah paripurnanya ilmu itu, melainkan hanya terbatas pada apa yang di berikan oleh kyainya. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kyai pengasuh pondoknya. Santrinya ada yang menetap di dalam pondok (santri mukim), dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalog)
2. Pondok Pesantren Modern
Pondok pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren karena orietasi belajarannya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan system belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama nempak pada bangunan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasa maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar di sekitar desa itu. Kedudukan para kyai sebagai koordinator pelaksana proses belajar mengajar langsung di kelas. Perbedaannya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.
3. Pondok Pesantren Komprehensif
Sistem pesantren inindisebut komprehensif merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan yang modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan watonan, namun secara reguler sistem pesekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan ketrampilan pun diaplikasikan sehingga menjadikannya berbeda dari tipologi kesatu dan kedua
II.4 Metode Pembelajaran
Pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren sebagaimana yang dituangkan dalam ciri-ciri (karakteristik) pondok pesantren yang diutarakan terdahulu. Berangkat dari pemikiran dan kondisi pondok pesantren ang ada, maka ada beberapa metode pembelajaran pondok pesantren :
1. Metode Pembelajaran yang bersifat Tradisional
Metode tradisional adalah berangkat dari pola pelajaran yang sangat sederhana dan sejak semula timbulnya, yakni pola pengajaran sorogan, bandongan dan wetonan dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama’ pada zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan istilah “kitab kuning”.
a. Metode Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa) yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kiai atau pembantunya (badal, asisten kiyai). System sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. System sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercitacita menjadi alim. System ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembelajaran. Sorogan merupakan kegiatan pembelajaran bagi para santri yang lebih menitik beratkan pada pengembangan kemampuan perorangan (individual), di bawah bimbingan seorang kiyai atau ustadz. (Depag, 2003a:38).
Pelaksanaannya, santri yang banyak itu dating bersama, kemudian mereka antri menunggu giliran masing-masing, dengan system pengajaran secara sorogan ini memungkinkan hubungan kiai dengan santri sangat dekat, sebab kiai dapat mengenal kemampuan pribadi santri secara satu satu persatu. Kitab yang disorogkan kepada kiai oleh santri yangsatu dengan santri yang lain tidak harus sama.(Hasbullah, 1999b:50-51).
b. Metode Wetonan/bandongan
Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardu (Depag, 2003a:39).
Metode weton ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang menerangkan pelajaran kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat cacatan padanya. Istilah wetonan ini di Jawa Barat di sebut dengan bandongan.
Tetapi sekarang ini banyak pesantren telah menggunakan metode pengajaran dengan memadukan antara model yang lama dengan model pengajaran yang modern yaitu dengan memadukan metode klasikal yang bertingkat.
2. Metode Pembelajaran yang Bersifat Modern
Di dalam perkembangannya pondok pesantren tidaklah semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan ketiga pola pembelajaran diatas, melainkan dilakukan suatu inovasi dalam pengembangan suatu system. Salafiah, maka gerakan Khalafiah telah memasuki derap perkembangan pondok pesantren.
Ada beberapa metode yang diterapkan, antara lain :
a. Klasikal
Pola penerapan system klasikal ini adalah dengan pendirian sekolahsekolah baik kelompok yang mengelola pengajaran agama atau ilmu yang dimasukkan dalam katagori umum dalam arti termasuk di dalam disiplin ilmui kauni (“Ijtihadi – hasil perolehan manusia) yang berbeda dengan agama yang sifatnya “tauqili“(dalam arti kata langsung diterapkan bentuk dan wujud ajarannya). Kedua disiplin ilmu di dalam system persekolahan diajarkan berdasarkan kurikulum yang telah baku dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan.
b. Kursus-kursus
Pola pengajaran yang ditempuh melalui kursus (takhassus) ini ditekankan pada pengembangan keterampilan berbahasa inggris, disamping itu diadakan keterampilan tanggan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan psikomotorik seperti, kursus menjahit, mengetik komputer, dan sablon.
Pengajaran system ini mengarah pada terbentuknya santri yang memiliki kemampuan praktis guna terbentuknya santri-santri yang mandiri menopang ilmu-ilmu agama yang tuntut dari Kyai melalui pelajaran sorogan, wetonan. Sebab pada umumnya santri tidak tergantung pada pekerjaan dimasa mendatang melainkan harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.
c. Pelatihan
Di samping sitem pengajaran klasikal dan kursus-kursus, dilaksanakan juga system pelatihan yang menekankan pada kemampuan psikomotorik. Pola pelatihan yang dikembangkan adalah termasuk menumbuhkan kemampuan praktis seperti, pelatihan pertukangan, perkebunan, perikanan, manajemen koperasi, dan kerajinan-kerajinan yang mendukung terciptanya kemandirian intergratif. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan yang lain yang cenderung lahirnya santri intelek dan ulama yang mumpuni.
II.5 Dinamika Perkembangan Pondok Pesantren
Pesantren, jika di sandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul di Indonesia, merupakan system pendidikan tertua saat ini dan di anggap sebagai produk budaya Indonesia yang indigenous. Pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama Islam yang di mulai sejak munculnya masyarakat Islam di nusantara pada abad ke-13. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian(“nggon ngaji”). Bentuk ini berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap bagi par pelajar (santri), yang kemudian di sebut pesantren. Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, pada waktu itu pendidikan pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang berstruktur, sehingga pendidikan ini di anggap sangat bergengsi. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan kaegaman.
Ciri umum yang dapat di ketahui adalah pesantren memiliki kultur khas yang berbeda dengan budaya sekitarnya.beberapa peneliti menyebut sebagai sebuah sub-kultur yang bersifat idiosyncratic. Cara pengajaranya pun unik. Sang Kyai, yang biasanya pendiri sekaligus pemilik pesantren, membacakan manuskrip-manuskrip keagamaan klasik berbahasa Arab (di kenal denga sebutan“kitab kuning”), sementara santri mendengarkan sambil memberi catatan (ngesahi, jawa) pada kitab yang sedang dibaca Metode ini di sebut bandongan atau layanan kolektif (collectife learning process). Selain itu, para santri di tugaskan membaca kitab, sementara kiyai atau ustadz yang sudah mumpuni menyimak sambil mengoreksi dan mengevaluasi bacaan dan performance seorang santri. Metode ini di kenal dengan istila sorogan atau layanan individu (individu learning process).kegiatan belajar mengajar di atas berlangsung tanpa penjenjangan kelas dan kurikulum yang ketat, dan biasanya dengan memisahkan jenis kelamin siswa.
Baru memasuki era 1970-an pesantren pengalami perkembangan signifikan. perubahan dan perkembangan itu bisa di tilik dari dua sudut pandang. Pertama, pesantren mengalami perkembangan kuantitas luar biasa dan menakjubkan, baik di wilayah pedesaan, pinggiran kota, maupun perkotaan. Data Departemen agama menyebutkan pada 1977 jumlah pesantren masih sekitar 4.195 buah dengan jumlah santri sekitar 677.394 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan berarti pada tahun 1985, di mana pesantren berjumlah sekitar 6.239 buah dengan jumlah santri sekitar 1.084.801 orang. Dua dasawarsa kemudian 1997, Depag mencatat jumlah pesantren sudah mencapai kenaikan mencapai 224% atau 9.388 buah dan kenaikan jumlah santri mencapai 261% atau 1.770.768 orang. Data terakhir Depag tahun 2001 menunjukan jumlah pesantren seluruh Indonesia sudah mencapai 11.312 buah dengan santri sebanyak 2.737.805 orang. Jumlah ini meliputi pesantraen salafiyah, tradisional sampai modern. (Masyhud, 2003: 4)
Perkembangan kedua, menyangkut penyelenggaraan pendidikan, sejak tahun 1970-an bentuk-bentuk pendidikan yang diselenggarakan di pesantren sudah variasi, bentuk-bentuk pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi empat tipe yaitu :
- Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA dan PT Agama Islam) maupun juga memiliki sekolah umum (SD, SMP, SMA dan PT Umum).
- Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum m,eski tidak menerapkan kurikulum nasional, seperti pesantren Gontor
- Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madarasah Diniyah, seperti pesantren Langitan Tuban, pesantren Lirboyo Kediri.
- Pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian. Sejalan dengan kecenderungan deregulasi di bidang pendidikan, penyeretan pendidikan juga di arahkan kepada pesantren.
Peran Pesantren dalam Menciptakan Pemimpin Umat
III. 1 Peran Pesantren Dalam Masyarakat
Sebagai lembaga sosial kemasyarakatan dibuktikan dengan diharapkannya kehadiran pesantren dalam masyarakat. Kehadiran di sini dimaksudkan dalam rangka changing and developing masyarakat. Pesantren, di sini dianggap sebagai lambang permanensies seorang kiyai di komunitas, atau daerah tertentu. Di bidang ini pesantren, sangat dikagumi karena pandai merubah perilaku masyarakat, memotivasi, atau melakukan perubahan-perubahan terhadapnya sekalipun terdapat keluhan akan adanya pesantren yang bersifat eklusif, tertutup dengan masyarakat lingkungannya, namun umumnya masyarakat sekitar pesantren mengalami perkembangan yang lebih baik dari sebelumnya. Pesantren merupakan sebuah pendidikan Islam yang mempunyai budaya tersendiri, berperan penting di bidang sosial keagamaan. Banyak orang memandang bahwa pesantren merupakan pusat perubahan di bidang pendidikan, politik, budaya, sosial, dan keagamaan, bahkan pada perkembangan selanjutnya pesantren juga dapat menjadi salah satu pusat pengembangan masyarakat di bidang ekonomi. Pesantren membawa misi dakwah, karena di dalamnya banyak santri yang datang untuk mendalami ilmu pengetahuan agama yang kemudian mereka akan menyebar keseluruh pelosok masyarakat untuk menyebarkan ajaran agama Islam dengan binaan aqidah dan spirit amal serta bermoral baik hingga tercipta kondisi yang stabil, aman dan nyaman, sejahtera dunia akhirat. Walaupun demikian pesantren tetaplah pesantren, semodern apapun ia tetap tumbuh dan berkembang dengan khas cita agama. Ia sebuah lembaga pengembangan generasi muslim yang mempunyai lingkungan dan tata nilai sendiri, berbeda dengan kehidupan masyarakat umum. Kebanyakan pesantren sebagai komunitas belajar keagamaan sangat erat berhubungan dengan lingkungan sekitar yang sering menjadi wadah pelaksanaannya.
III. 2 Peran Pesantren Dalam Media Pendidikan
Meskipun pada mulanya banyak pesantren dibangun sebagai pusat reproduksi spiritual, yakni tumbuh berdasarkan sistim-sistim nilai yang bersifat agam islam, tapi para pendukungnya tidak hanya semata-mata menanggulangi isi pendidikan agama saja. Pesantren bersama-sama dengan para muridnya atau dengan kelompoknya yang akrab mencoba melaksanakan gaya hidup yang menghubungkan kerja dan pendidikan serta membina lingkungan sekitarnya berdasarkan struktur budaya dan sosial. Karena itu pesantern mampu menyesuaikan diri dengan bentuk masyarakat yang amat berbeda maupun dengan kegiatan-kegiatan individu yang beraneka ragam. Peran pesantren telah lama diakui oleh masyarakat, yaitu dalam media pendidikan. Demikian halnya dengan madrasah dan sekolah Islam misalnya tentang peradaban dan kemajuan akhlah didikannya yang nantinya menjadi penerus bangsa. Kepiawaian pesantren dalam memformulakan pemahaman dan pemikirannya sehingga melahirkan kultur yang mengadabkan manusia adalah potensi riil pesantren. Di era global kepiawaian, kultur dan peran strategis itu harus menjadi lebih dimunculkan, atau dituntut untuk dilahirkan kembali. Pesantren, madrasah dan sekolah Islam mempunyai reputasi tersendiri sebagai lembaga yang bercirikan agama Islam. Sebagai lembaga pendidikan karena pesantren madrasah dan sekolah Islam umumnya menyelenggarakan pendidikan. Bahkan karena memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan penyelenggaraan pendidikan lain. Pada intinya pesantren mempunyai peran sama dengan sekolah formal dalam perannya di bidang pendidikan. Namun yang membedakan dengan sekolah formal adalah pesantren mengjarkan ilmu dengan bungkus ajaran islam,selain itu pesantren difokuskan untuk mencetak seorang penerus bangsa dengan akhlak dan ajaran agama islam.
DAFTAR PUSTAKA
Mas’ud Abdurrahman; Dinamika Pesantren dan Madrasah;2002, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

EmoticonEmoticon